Rabu, 06 Juli 2011

Aku Tidak Ingin Menjadi Muda Lagi


Hidup ini sangat indah. Namun indah atau susah adalah suasana dari dalam hati. Aku sendiri paling senang memperhatikan keindahan lewat kecerian anak-anak- mengembara, berlari, berlompatan- tidak kenal lelah, dari pagi hingga malam datang lagi dan tertidur- kembali bermimpi.
Aku juga paling senang memperhatian kecerian remaja, karena dalam kecerian mereka terdapat vitalitas hidup. Aku fikir bahwa anak-anak dan remaja adalah manusia yang paling sibuk di dunia. Coba perhatikan kalau ada keramaian dan acara-acara sosial yang  penuh dengan kegembiraan, maka di sana pasti terdapat banyak ana-anak dan para remaja.
Ada hal lain yang membuat aku senang. Aku paling senang melihat seorang ayah yang menggendong dan bermain akrab dan penuh cinta dengan bayinya, karena suasana begini masih langka terlihat. Aku juga senang melihat anak-anak muda yang selalu menebar kebaikan dalam hidup ini. Lantas apakah aku ingin muda lagi?
Masa mudah memang sangat mudah. Tetapi aku takut menjadi muda lagi. Dari usia muda hingga usia tua ini aku telah melalui serangkaian peristiwa yang menyenangkan dan peristiwa yang menakutkan dan aku tidak ingin lagi mengulangi peristiwa yang menakutkan dalam hidup. Peristiwa yang menakutkan ada dalam masa anak- anak, masa remaja hingga masa dewasa dan masa tua.
Peristiwa seperti perpisahan, ditinggalkan, suasana menakutkan dan dimarahi adalah hal-hal yang menakutkan bagiku saat masih anak-anak. Aku sangat gembira bila ada pertemuan dan sedih dengan perpisahan. Pada masa kecil aku sempat dipelihara oleh seorang famili yang amat setia menemaniku. Mengajak aku bermain- membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali dan membelinya tali- lalu menyerahkannya padaku. Saat aku menarik mobil-mobilan tersebut ia selalu memberi  aku semangat agar mengembara sekelilng rumah. Bila aku terjatuh dan terluka, maka ia akan meniup luka kecilku dengan tiupan angin dari mulutnya dan berkata “ah jangan menangis, kamu bakal jadi orang hebat”. Namun aku merasa sangat  berduka saat ia harus pergi karena ia harus berumah tangga. Saat itu aku tidak mengerti apa maksudnya berumah tangga, yang jelas aku ditinggal pergi dan aku merasa tidak akan ada lagi orang yang tersenyum pada ku atau menenangkan tangisku.
Saat aku kecil, aku paling takut kalau aku rewel, karena aku aku segera diusir keluar rumah dan dibiarkan berada dikegelapan malam. Ini termasuk strategi orang tuaku dalam menenangkan semua anak anak- menakut-nakuti dengan kata-kata hantu, kuntilanak, hantu pocong dan aku dibiarkan dalam kegelaman. Aku merasa seolah olah ada jari jari hantu yang  memang menggerogoti sekujur tubuhku. Aku ingin semua orang tua tidak berbuat demikian pada anak-anaknya karena mereka pasti akan menjadi penakut dan tidak bisa mencari solusi atas problema yang mereka hadapi, juga kebiasaan demikian akan menghilangkan karakter kepemimpinan yang baik bagi anak.
Hal lain yang membuat aku terluka saat masih kecil adalah karena dibeda-bedakan dari saudaraku yang lain. Suatu hari aku pergi bermain-main bersama teman jauh di kebun di belakang rumah. Aku tiba tiba ingin pulang karena aku merasa sangat dahaga. Apa yang aku temukan ayah dan ibuku dan saudara-saudara ku sedang makan sate, makanan kesukaanku, namun buat ku tidak ada. Mereka menduga aku tidak ada di rumah dan jatah sateku diberikan pada anggota yang lain. Aku tidak mengerti alasan mereka, yang jelas aku merasa sedih sekali dan aku pergi ke belakang rumah dan di sana air mataku tumpah sebanyak mungkin. Ibuku memanggilku namun aku ngambek, karena aku merasa sebagai anak yang berbeda dan anak yang tidak berharga. Wah aku tidak ingin menjadi kecil seperti itu lagi.
Kesedihan-kesedihan ku, dan anak-anak lain- dalam masa anak-anak adalah karena adanya perbedaan. Sebagai anak-anak aku ingin diajak pergi ketempat permainan atau paling kurang aku juga harus diberikan mainan. Tetapi apa boleh dikatakan, orang tuaku tidak pernah tahu dengan keinginan ku. Teman-temanku berpacu dengan sepeda kecil mereka dan aku hanya menjadi penonton saja. Akhirnya suatu hari aku memperoleh sepeda dan aku rajin berlatih main sepeda.
Setelah aku pintar bersepeda maka aku membonceng adikku. Aku dayung sepeda tersebut sekencang mungkin dan aku menjadi orang paling jago dan paling hebat di dunia ini. Aku suka dengan tantangan maka akau melaju kencang dan kencang. Aku melaju ke atas tumpukan tanah dan aku membuat sepedaku untuk melompati tumpukan tanah. Aku kehilangan keseimbangan dan aku serta adikku segera terbanting ke bumi. Aku luka-luka dan adikku juga luka-luka. Aku segera membeli plester anti luka- handyplast- untuk membalut luka-luka adikku.
Aku taku dengan ibuku. Ia pasti marah besar. Akhirnya aku dengar suara ibu marah besar dan aku yakin bakal akan dicambuk. Aku tetap membetulkan letak plester pada luka pada wajah adikku. Anehnya  bahwa adikku juga cukup gentlemen, ia tidak menangis. Melihat aku lagi bertanggung jawab atas luka-luka adikku, ibuku batal untuk mencambukku. Mungkin ia juga kasihan melihat aku luka-luka dan adikku juga luka-luka dan buat apa dicambuk lagi. Ibuku termasuk generasi terakhir yang berprinsip bahwa “sayang dengan anak dicambuki dan sayang dengan kampung ditinggalkan." Pada hal sekarang hukum fisik harus dikurangi atau dihentikan.
Ternyata anak laki-laki paling senang adu kekuatan fisik. Hampir tiap hari aku dan kakakku adu kekuatan fisik- siapa sih yang paling kuat ? Aku selalu kalah dan aku sakit hati. Aku merasa dendam dan aku mencari teman yang bisa aku ajak untuk adu kekuatan di sekolah dan aku menang. Namun aku kena marah oleh ibu guru karena aku dianggap membuat keributan atau berkelahi di kelas.
Masa bermain di usia Sekolah Dasar memang mengasyikan. Suatu kali guru-guru DI SD Negeri 3 Payakumbuh lagi rapat. Rapatnya agak lama. Aku dan teman-teman pergi bermain sangat jauh sampai dekat kolam besar. Kami memandang kolam tersebut sebagai tempat melakukan kreativitas. Kami semua melepaskan seragam sekolah dan semua berloncatan ke dalam kolam dan kami berenang. Kami lupa dengan waktu. Seorang temanku “Erman Syam” menemui sebelah anting-anting emas dan ia rembug dengan kami semua untuk menjualnya nanti dan uangnya kita bagi-bagi. Namun kami harus segera ke sekolah. Di sekolah kami ditunggu dengan hukuman dan kami disuruh mencangkul kebun sekolah. Itulah pertama kali aku mencangkul, mengangkat tangkai cangkul yang terasa cukup  berat. Kami tidak tahu kalau itu adalah pelanggaran disiplin di sekolah. Usai pulang sekolah kami pergi ke took emas. Anting emas tadi ternyata memang emas betulan dan telah dibeli oleh penjual di sebuah took emas. Uangnnya digunakan untuk pesta membeli makanan. Hari itu aku punya uang yang agak lebih. Namanya saja uang rezki nomplok.
Masa-masa di SMP juga tidak begitu terasa indah. Semua teman-temanku mulai memperhatikan penampilan dan aku …aku tampil amat bersahaja. Aku takut minta tambahan koleksi pakaian pada orang tua. Pakaian ku sedikit dan aku jadi malas kalau ikut acara-acara teman. Aku juga tidak mengajak teman-temankku ke rumah, aku malu dengan kondisi rumahku yang begitu kecil, pengap dan berlepotan, sementara teman-temankku rumahnya bagus, bersih dan indah.
Aku tumbuh menjadi anak yang rendah diri- karena tidak ada potensi yang musti diandalkan- kemampuan olah raga, seni dan akademikku- semuanya hampa. Akhirnya aku musti bergiat dan aku tertarik dengan bahasa Inggris. Aku menjadi lebih jago dari kawan-kawanku dan aku menjadi lebih popular dan punya banyak teman.
Aku selalu tumbuh dan tumbuh. Aku melihat semua teman-temanku pada bersinar- punya mobil, punya alat musik, punya sarana olah raga dan punya orang tua yang beken. Tetapi aku hanya punya mimpi dan suka melamun. Namun aku tidak berguna meratapi kekuranganku, aku tidak meratapi mengapa ayahku tidak memberi aku model hidup yang bagus- mengapa ayahku tidak mengajakku bertukar fikiran . dan ibuku mengapa terlalu banyak melarang dan marah marah sehingga aku tidak punya inisiatif.
Suatu hari aku mau jatuh cinta pada teman sekelasku. Tetapi bagaimana cara untuk mengungkapkannya. Aku tidak berani dan cintaku pasti bakal ditolak. Aku sudah duluan memandang diri ini sangat rendah. Memandang diri rendah berarti merasa rendah diri. Aneh teman wanita yang mau aku taksir tidak respon padaku. Yang tidak aku taksir itulah yang memberi respon, banyak yang datang pada ku. Aku termasuk yang rajin belajar, namun nilai ku kadang kadang begitu melorot dan aku jadi sedih. Aku melihat bahwa kedekatan guru dan murid bisa membuat nilai tinggi dan aku tidak tahu cara  mendekatkan diri dengan guru-guruku. Namun suatu kali guru kesenianku merayakan ulang tahunku bersama teman-temanku  dalam kelas- dan itu sangat berkesan bagi ku sampai sekarang.
Tiba-tiba usia belasanku mau berakhir…aku sedih banget. Besok usiaku sudah dua puluh tahun dan aku tidak remaja lagi, karena remaja itu usianya belasan. Kalau dipikir pikir bahwa usia muda tidak akan pernah datang lagi. Aku tidak suka melamun apalagi mencari-cari kelemahan diri. Aku mengembangkan diri semampu ku. Aku memperluas pergaulan dengan orang orang yang sesuai dengan pribadiku. Aku selalu ingin menjadi orang berguna dan dan orang penting. Maka aku rajin mencari identitas diri- kadang aku ingin jadi dokter, aku ingin jadi polisi seperti ayahku, aku ingin jadi pedagang seperti tetanggaku, jadi nakhoda kapal seperti kapal yang pernah aku lihat di Teluk Bayur di Padang dan aku juga membaca buku filsafat dan buku agama untuk ketenangan fikiran dan emosiku.
Aku belajar untuk menerima diri apa adanya. Karena menerima diri sebagaimana adanya akan membuat fikiran tenang. Suatu hari teman Perancisku berada bersamaku. Mereka dalah Anne Bedos dan Louis Deharveng, mereka berdua sangat pintar tetapi mengapa penampilannya begitu urakan. Rambut panjang dan tidak disisir. Mereka menjawab ‘C’est moi et cela natural”. Suatu hari aku memberi mereka jambu dan mereka langsung memakannya tanpa membuang semut-semut hitam yang terkurung dalam telinga jambu tersebut. Katanya “Je mange tout les foumis et tout sont naturalement- aku makan semua dan semuanya alami”. Aku baru tahu kalau mereka suka dengan ungkapan back to basic dan back to natural.
Suatu ketika penjaja kosmetik datang padaku, ia langsung berseru “Duh kasihan uban anda bermunculan dan pakailah semir yang aku jual ini..?”. Aku protes bahwa apakah saya menjadi jelek atau hina kalau rambut beruban dan aku menjawab” Maaf uban ini membuat harga diriku bertambah, kemaren aku salah menyeberang jalan dan karena pak Polisi melihat ubanku, mereka memberi peringatan padaku dengan penuh sopan santun”.
Banyak orang takut tua dan mereka tambil jadi aneh-aneh dan salah tingkah. Aku masih ingat bahwa saat bibiku mau menjadi tua , ia sibuk pergi ke salon intuk mengubah penampilannya, suatu ketika ia meniru rambut kribo ala Achmad Albar. Maka ia diledek oleh temannya sebagai gadis tua dengan rambut sarang burung tempua. Orang orang yang takut tua memang telah menyerbu salon dan rajin mengkonsumsi obat obatan.
Aku baru tahu bahwa mengapa dulu ada teman ayahku yang usianya sekitar 40-an suka memakai kacamata gelap, memakai topi koboi, dan penampilannya mirip orang orang muda. Atau teman ibuku yang setelah usia 40 tahun atau lebih kembali peduli mengupdate penampilan- memakai lipstick tebal, rambut yang dimodifikasi ibarat penampilan remaja kemudian khawatir terus dengan kerutan yang mulai bermunculan pada wajah mereka. Mereka takut tua dan juga lebih takut kalau ditinggalkan oleh pasangan hidup mereka.
Aku sendiri masih ingat saat ibuku meratapi kesedihannya karena ditinggal oleh masa mudanya. “Dulu dalam usia begini.. aku tinggalkan nenek mu dan sekarang aku sudah setua dia pula sekaranmg”. Aku saat itu tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibuku dan sekarang aku juga mengikuti pertumbuhan usia seperti mereka. Nenekku sudah meninggal dan ibuku baru saja meninggal dan esok aku akan juga menyusul mereka.
Senang menjadi tua dan aku takut menjadi muda lagi. Yang aku takutkan adalah mengulang kesedihan demi kesedihan yang sempat aku lalui sejak kecil hingga aku dewasa dan aku menuju tua seperti ini. Tetapi kalau aku fikir bahwa menjadi tua itu adalah sangat alami dan semua orang serentak lahir dan menjadi besar dan tua sedunia ini. Teman-teman yang dulu sempat aku tinggalkan maka saat berjumpa dengan aku juga aku temui mengalami penuaaan. Wah mengapa harus takut tua dan aku malah takut menjadi muda. Tua yang menyenangkan adalah menjadi tua dengan penuh bijaksana. Menjadi tua yang selalu berbahasa dengan santun dan menjadi dekat dengan manusia dan juga yang terpenting dekat kepada Sang Khalik. Kini aku tengah menikmati penambahan usiaku dengan penuh bijaksana. Aku juga mengisi sebahagian malam dengan tenggelam di atas sajadah dan merasakan kedamaian dalam relung hatiku.
Oleh: Marjohan

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.:tutup:.
Klik Salah Satu Untuk Medukung Blog Saya