Rabu, 06 Juli 2011

Perencanaan Olahraga yang Tepat, Hindari Kematian Mendadak Karena Jantung

Perencanaan Olahraga yang Tepat, Hindari Kematian Mendadak Karena Jantung Bulan lalu kita dikejutkan oleh meninggalnya sesosok tokoh selebriti, politik dan olahraga nasional, Adjie Massaid, dalam usia yang terbilang masih muda yaitu 43 tahun. Kabar duka tersebut mengejutkan karena terjadinya begitu tiba-tiba, bahkan sehari sebelumnya mendiang masih sempat memberikan keterangan pers selaku jabatannya sebagai manajer tim nasional sepakbola usia 21. Diberitakan bahwa beliau meninggal dunia diduga karena penyakit jantung, tidak lama setelah bermain sepak bola. Sejenak kita teringat kasus serupa yang pernah terjadi pada insan selebriti kita beberapa tahun silam yaitu Benyamin Soeb (tahun 1995) dan Basuki (tahun 2007). Mereka juga mendadak dilarikan ke rumah sakit karena sesak napas dan dinyatakan meninggal dunia diduga karena penyakit jantung tidak lama setelah bermain sepakbola atau futsal.
Kematian mendadak para tokoh tersebut dapat digolongkan sebagai sudden cardiac death (SCD), yaitu kematian yang berasal dari jantung dan terjadi secara tak terduga, dalam waktu singkat sejak gejala pertama dirasakan serta terjadinya pada orang yang sebelumnya tidak memiliki penyakit atau kondisi medis tertentu yang memang serius. SCD umumnya terjadi pasca henti jantung yang dikarenakan gangguan irama yang mematikan, baik terjadi pada mereka yang sudah memiliki atau maupun tanpa adanya gangguan struktur jantung dan pembuluh darah koroner. Walaupun sebagian kecil kasus dapat disebabkan oleh kelaian bawaan pada sistem listrik maupun otot jantung seperti SCD yang terjadi pada mereka yang usia remaja atau dewasa muda, insidensi terjadinya SCD lebih umum dijumpai seiring dengan peningkatan usia, terkait dengan sudah adanya gangguan fungsi koroner dan payah jantung. SCD seringkali merupakan salah satu manisfestasi dari serangan jantung koroner. Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kejadian SCD meliputi paling tidak 50% kasus dari keseluruhan kasus kematian yang disebabkan oleh jantung.
Kejadian SCD di dunia dilaporkan banyak terjadi saat sedang maupun sesaat setelah melakukan olahraga, sehingga tidak mengherankan jika kasusnya bahkan bisa terjadi para olahragawan profesional, salah satunya yang mungkin masih segar dalam ingatan adalah yang menimpa Marc Vivian Foe, pemain sepakbola nasional Kamerun di ajang Piala Konfederasi tahun 2003 yang lalu. Kejadian SCD seringkali dikaitkan dengan olahraga dan aktivitas fisik, karena pada saat berolahraga pada prinsipnya sistem jantung dan pembuluh darah kita mendapatkan tantangan atau justru beban yang besar untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan energi tubuh yang meningkat drastis selama berolahraga. Saat berolahraga, jantung akan dipacu untuk bekerja keras yang digambarkan dari kenaikan curah jantung (cardiac output) atau volume darah segar yang dipompakan oleh jantung dalam 1 menit, hingga mencapai 3-4 kali lipat dari normal (sekitar 5 L/mnt menjadi hingga 20 L/mnt), bahkan pada atlit terlatih curah jantung bisa mencapai 6 kali lipat normal. Untuk menunjang performa demikian, aliran darah koroner yang membawa oksigen dan nutrisi energi bagi otot-otot jantung harus meningkat pula sehingga tidak terjadi ketimpangan yang berakibat iskemi (cedera karena haus oksigen) dan kerusakan lebih lanjut dari otot jantung. Oleh karena itulah, sel-sel otot jantung (miokard) yang sehat serta ditunjang dengan performa pembuluh darah koroner yang baik adalah syarat mutlak aktivitas olahraga tidak berdampak buruk bagi tubuh. Namun itu tidak berarti mereka yang sudah memiliki penyakit payah jantung maupun penyakit jantung koroner tidak diperkenankan berolahraga, malah sebaliknya mereka justru tetap disarankan untuk berolahraga, tetapi harus dengan persiapan yang baik dan terukur sesuai dengan kondisi tubuh.
Jenis olahraga, cara melakukan, durasi dan intensitasnya penting untuk menjadi pertimbangan bagi seseorang yang hendak berolahraga, terutama mereka yang telah berusia 35 tahun ke atas. Jenis olahraga yang baik untuk meningkatkan performa jantung dan pembuluh darah adalah olahraga yang dinamis. Olahraga dinamis atau disebut juga aerobik yang bericirikan periode kontraksi dan relaksasi otot tubuh secara teratur serta proses ambil napas yang adekwat akan memacu sistem jantung dan pembuluh darah tetapi juga tetap menjamin asupan oksigen dalam dosis tinggi yang dibutuhkan oleh jantung.  Contoh olahraga aerobik adalah jalan cepat, jogging, bersepeda, senam kebugaran, dan berenang. Sebaliknya pada olahraga jenis statis atau isometrik atau anaerob, terjadi peningkatan beban jantung secara berlebihan dikarenakan periode kontraksi otot tubuh yang lebih dominan, yang merupakan tahanan besar bagi kerja jantung, sehingga akan diikuti pula dengan kenaikan tekanan darah yang lebih nyata. Jenis olahraga ini sebaiknya dihindari bagi mereka yang sudah berumur atau sudah ada penyakit jantung. Sepakbola adalah olahraga yang kompleks dalam hal kombinasi pergerakan serta tergolong intensitas berat terkait dengan jarak tempuh lapangan yang jauh, serta segi kompetitifnya, sehingga jika dilakukan dengan persiapan fisik yang kurang memadai dan secara tidak regular dengan eskalasi intensitas tepat akan berakibat kepayahan kerja jantung dan pembuluh darah, terutama pada mereka yang sudah berumur.
Di samping pilihan jenis olahraga, penting untuk melakukan olahraga secara teratur dengan eskalasi intensitas yang tepat. Berolahraga secara teratur akan memberikan waktu bagi tubuh, termasuk jantung, untuk beradaptasi sehingga seiring waktu hal tersebut akan diikuti dengan peningkatan performa jantung yang tentunya akan memberikan efek positif bagi kebugaran tubuh secara berkesinambungan. Panduan European Society of Cardiology 2008 menganjurkan program olahraga yang tepat adalah sebagai berikut; program harus disesuaikan dengan usia, kebugaran dan minat individu; bagi mereka yang berusia diatas 40 tahun atau yang berisiko tinggi perlu dilakukan pemeriksan sebelum menjalani program olahraga, termasuk dilakukan treadmill; target olahraga meliputi frekuensinya minimum 4 kali seminggu masing-masing 20-60 menit, dipilih olahraga jenis aerobik untuk mencapai 60-85% dari detak jantung maksimal sesuai umur (220- tahun usia), serta selama berolahraga individu sebaiknya tetap merasa hangat dan bernapas dengan dalam; mereka yang sudah lama tidak berolahraga sebaiknya memulainya dengan intensitas kecil selama 10-15 menit dalam 4 minggu ke depan, barulah intensitas dan durasi ditingkatkan secara gradual.      
Individu juga perlu peka terhadap sinyal kelelahan tubuhnya selama berolahraga. Ketika dada terasa menyesak, berat, nyeri atau berdebar-debar berlebihan disertai kepala pening dan keringat dingin, hendaknya segera istirahat, minum cukup dan carilah udara segar. Apabila rasa tak nyaman tersebut masih dirasakan walaupun sudah cukup istirahat, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Jika ada rekan yang tak sadarkan diri saat berolahraga, pertolongan pertama harus segera diberikan untuk memastikan napas dan detak jantungnya masih baik dengan cara melihat pergerakan dada saat bernapas, merasakan udara napas dari hidungnya serta meraba denyut nadi karotis di leher. Absennya napas dan detak jantung harus ditangani segera dengan pemberian napas buatan dan resusitasi jantung diikuti dengan melakukan panggilan ambulan emergensi.

Sumber : http://www.wikimu.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.:tutup:.
Klik Salah Satu Untuk Medukung Blog Saya